Selasa, 03 Januari 2017

Tugas Kelompok Makalah softskill : Plagiarisme

Makalah Plagiarisme
Mata Kuliah : Softskill Psikologi dan Internet
Fakultas Psikologi

2PA10
Disusun Oleh :
Nama
NPM
Evi Lisa Oktaviani
12515303
Nur Shandi Setiani
15515198
Shabrina Prafita Putri. S
16515502
Suparlinah
16515715

Depok 2016

I. LATAR BELAKANG

            Penjiplakan atau plagiat adalah perbuatan yang melarang hukum, tapi masih banyak saja orang yang melakukannya. Plagiat adalah pelanggaran hak cipta seseorang. Dijelaskan pada Undang-undang No.19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta Pasal 1: Hak Cipta adalah hak eksklusif bagi pencipta atau penerima hak untuk mengumumkan atau memperbanyak ciptaannya atau memberikan izin untuk itu dengan tidak mengurangi pembatasanpembatasan menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku.
            Tindakan plagiarisme tidak hanya terjadi di bidang akademik akan tetapi juga terjadi di bidang seni dan budaya. Lagu atau musik merukan karya yang dilindungi oleh Undang-undang Hak Cipta. Memakai, dengan atau tanpa merubah lirik lagu milik orang lain tanpa menyebut atau mencantumkan sumbernya adalah sebuah tindakan yang melanggar hak cipta.
            Di negara-negara anggota European Union, perdagangan produk-produk dilindungi HKI ditiru atau dibajak dapat dikatakan cukup tinggi persentasenya untuk produk-produk tertentu.. Untuk bidang musik presentase pembajakannya mencapai 10%. Sebagai akibat dari pembajakan dan peniruan salah satunya adalah berkurangnya penapatan dari penjualan para produsen legal. Dalam bidang musik kerugian yang diperkirakan mencapai US $ 4.1 miliar tahun 1999..
  
II. LANDASAN TEORI

A. DEFINI PLAGIARISME
            Menurut Sulianta (2007) Plagiarisme adalah bentuk penyelahgunaan hak kekayaan intelektual milik orang lain, yang mana karya tersebut dipresentasikan dan diakui secara tidak sah sebagai hasil karya pribadi.
            Menurut Winarto (2004) Plagiarisme adalah kecermatan dalam memilah antaran pertanyaan sang penulis sendiri dengan kutipan atau rujukan pada tulisan dan gagasan orang lain.
            Menurut Zhang (2016) Plagiarisme adalah menggunakan ide orang lain yang dipublikasi dan tidak dipublikasi atau kata-kata tanpa atribusi atau izin, dan menyampaikannya sebagai sesuatu yang baru dan asli bukan diperoleh dari sumber yang ada.
            Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1997) istilah plagiarisme atau sering disebut plagiat adalah penjiplakan atau pengambilan karangan, pendapat, dan sebagainya dari orang lain dan menjadikannya seolah karangan dan pendapat sendiri.

B. CIRI-CIRI PLAGIARISME
Utorodewo dkk (2007) ciri-ciri plagiarisme adalah sebagi berikut:
1.      Mengakui tulisan orang lain sebagai tulisan sendiri
2.      Mengakui gagasan orang lain sebagai pemikiran sendiri
3.      Mengakui temuan orang lain sebagai kepunyaan sendiri
4.      Mengakui karya kelompok sebagai kepunyaan atau hasil sendiri
5.      Menyajikan tulisan yang sama dalam kesempatan yang berbeda tanpa menyebutkan asalusulnya
6.      Meringkas dan memparafrasekan (mengutip tak langsung) tanpa menyebutkan sumbernya
7.      Meringkas dan memparafrasekan dengan menyebut sumbernya, tetapi rangkaian kalimat dan pilihan katanya masih terlalu sama dengan sumbernya.

C. CIRI-CIRI PLAGIARISME DALAM BIDANG MUSIK
a. Menyalin secara keseluruhan atau sebagian lirik lagu orang lain
            Dalam hal ini seorang yang bisa kita sebut saja musisi, mengambil tanpa sepengetahuan dari si pemilik Hak Cipta apa yang telah menjadi hak dari pencipta, kegiatan ini sama saja merugikan pencipta dan tindakan pembodohan publik, karena pencipta kehilangan hak dari hasil karyanya, dalam hal ini kerugian materil yang didapatkan oleh pencipta.
b. Menjiplak isi musik dan lagu lebih dari 8 bar
            Menjiplak lebih dari 8 bar ini, dilihat dari segi seni musik itu sendiri karena menurut musisi-musisi ataupun seorang pengamat musik, etika dalam membuat sebuah lagu yang notabene akan dipasarkan atau dikomersilkan itu hanya bisa menjiplak kurang dari 8 bar, Dan notasinya setidaknya tidak memiliki kesamaan.
c. Konsep yang digunakan sama persis
            Dalam hal ini konsep bermusik dan konsep dari penampilan si musisi,konsep atau juga biasa kita sama-sama tahu sebagai dasar atau pemikiran awal dari suatu karya, adalah sangat penting bagi si pencipta karya, Sekarang ini banyak sekali plagiator yang berkedok sebagai penggemar fanatik dan katanya terinspirasi dari musiknya.
III. CONTOH KASUS
Lagu Agnes Monica Diplagiat Drake
Agnez Mo diiringi oleh penari menghibur penonton dalam Konser Raya 21 Tahun Indosiar, Istora Senayan, Jakarta (11/1/2016). Agnez Mo memulai lagu Coke Bottle, Muda (Le O Le O), Matahariku dan Boy Magnet di konser tersebut. (Liputan6.com/Gempur M Surya)

Liputan6.com, Jakarta Agnez Mo atau Agnes Monica menjadi sorotan karena karier go international-nya yang dianggap stagnan. Agnes Monica bahkan dibandingkan dengan Joey Alexander, bocah berusia 12 tahun yang memukau di ajang penghargaan Grammy Awards 2016. Joey Alexander mengharumkan Indonesia dan membuat netizen berdecak kagum. Alasannya, Joey Alexander tak terlalu 'cuap-cuap' mengenai go international, tapi langsung melejit di ranah musik dunia. Akibatnya, Agnes Monica pun mendapatkan sindiran pedas dari netizen.
Penyanyi Agnez Mo diiringi oleh penari tampil memukau saat Konser Raya 21 Tahun Indosiar, Istora Senayan, Jakarta (11/1/2016). Agnes Mo memulai dengan lagu Coke Bottle di HUT Indosiar yang ke 21. (Liputan6.com/Gempur M Surya). Meski mendapatkan hujatan, Agnes Monica rupanya berhasil sukses dengan 'Coke Bottle' yang rilis 2014 silam. 'Coke Bottle' yang dinyanyikan Agnes Monica dengan Timbaland, T.I yang rilis 9.462.568 orang di situs berbagi video YouTube.
Tak banyak yang mengetahui jika background musik 'Coke Bottle' ditiru oleh Drake dengan lagunya 'Hotline Bling'. Aransemen musik bernuansa bubble dengan nuansa R&B itu membuat Drake makin populer. Video klipnya ditonton 483.756.417 orang di situs berbagi video YouTube. Beberapa penggemar Agnes Monica menyadari kemiripan di musik yang digunakan Drake. Sayangnya, Drake memang lebih terkenal di dunia hiburan dibandingkan Agnes Monica.

Akun dengan nama Ronny Hartono menuliskan, "background musiknya di contek ama "Drake" hotline bling." Netizen menyayangkan Agnes Monica kurang populer dengan lagu 'Coke Bottle' di ranah internasional. Akun dengan nama Romi Irwandi Saragih menambahkan,"mirip banget emang, wah sayang banget nih karya Agnes ke-hidden gitu.". "Iya, mirip bgt sma musik juga baru ku bandingkan.. sayang sekali ya karya Agnes mo di contek dan tidak ada gugatan, aku yakin ini semua karena begitu banyakknya haters Agnes mo, dan banyak yg gk suka sma dia di Indonesia," tulis akun Dona Cristin.

IV. PEMBAHASAN

            Musik dan Plagiatisme merupakan komponen yang sangat berkaitan, hal ini bisa dianalogikan sebagai berikut. Karena jumlah musisi yang semakin banyak, sementara nada-nada yang telah diketahui juga terbatas maka ruang gerak kreatifitas mereka semakin sempit. Jadi ketika mereka membuat sebuah karya musik, secara tidak sengaja mereka menggunakan untaian nada yang sama seperti karya orang lain, yang mereka tidak ketahui sebelumnya. Dan jadilah musisi yang baru menciptakan karyanya tersebut dikatakan plagiat dari musisi sebelumnya. Musik yang terdengar adalah sebuah frekuensi yang merambat melalui udara, sejumlah nada yang terdengar mempunyai pola yang sama dan bisa digambarkan dengan spektrum suara , spektrum atau pola suara merupakan representasi dari suara atau nada yang dihasilkan dalam sebuah gelombang sinusoidal.
            Plagiarisme dalam bidang musik sangat banyak di temukan dan salah satu contohnya kasus Plagiarisme yang dialami oleh salah seorang penyanyi indonesia yaitu Agnez Monica yang lagunya di tiru oleh seorang musisi bernama Drake pada lagu Coke Bottle milik Agnez Monica dengan lagu milik Drake yang berjudul Hotline Bling yang membuat Drake menjadi lebih terkenal dengan video klipnya yang telah ditonton  483.756.417 orang di situs Youtube.  Pada umumnya, plagiator menyatakan tidak mengetahui bahwa tindakan yang dilakukanya adalah plagiat.

  
V. KESIMPULAN DAN SARAN

A. KESIMPULAN
            Plagiarisme atau  pembajakan merupakan sebuah tindakan penyalahgunaan atas hasil karya orang lain secara sengaja atau tidak sengaja dimana karya orang lain tersebut di diakui secara tidak sah sebagai hasil karya pribadi. Plagiat dapat dianggap sebagai tindak pidana karena mencuri hak cipta orang lain. Plagiator adalah orang perseorangan atau kelompok orang pelaku plagiat.
            Beberapa tindakan plagiat terjadi di sekitar kita. Tentu saja hal ini cukup menjadi perhatian kita semua, sehingga menjadi sangat penting bagi kita untuk mengantisipasi tindakan ini. Tindakan plagiat akan mencoreng dan memburamkan dunia akademis kita dan tidak berlebihan jika plagiarisme dikatakan sebagai kejahatan intelektual.
            Kegiatan plagiat musik dan lagu bisa berdampak buruk terhadap seseorang musisi atau dalam hal ini si pemegang hak cipta mutlak dan si konsumen dalam hal ini pembeli karya tersebut,sebab sebuah kegiatan plagiat secara tidak langsung telah merugikan si musisi pemilik karya,seperti tenaga,pemikiran dan bahkan financial,bagi konsumen,ini sama saja dengan pembohongan publik terhadap penjualan karya yang bukan asli ciptaan si penjual.

B. SARAN
Ada baiknya para penulis musik atau lagu dan penyannyinya tidak menjiplak karya musik dari musisi lainya dan lebih menghargai para pencipta musik dan lagu aslinya. Karena mengaku karya milik orang lain sebagai hasil karya miliknya itu bukanlan tindakan yang benar karena melanggar HAKI (Hak Atas Kekayaan Intelektual) yang didalamnya meliputi atas benda bergerak, benda tidak bergerak dan benda tidak berwujud seperti hak cipta dalam suatu karya musik.

DAFTAR PUSTAKA
Gerungan, Faisal V.(2013). “Penyidikan terhadap plagiat karya musik dan lagu di indonesia”. Lex Privatum, Vol.I/No.4
Kamus Besar Bahasa Indonesia. (1997). Jakarta : Departemen Pendidikan dan
            Kebudayaan. & Balai Pustaka
Permita, Desika.(2016). “Banyak dihujat, lagu agnes monica diplagiat drake”.             http://showbiz.liputan6.com/read/2438344/banyak-dihujat-lagu-agnes-        monica-diplagiat-drake. 23/12/2015. 12.17 WIB
Sulianta, Feri. (2007).Konten internet. Jakarta: PT Elex Media Komputindo
Utorodewo, Felicia, dkk. (2007). Bahasa Indonesia: Sebuah Pengantar Penulisan             Ilmiah. Jakarta: Lembaga Penerbit FEUI.
Winarto, Yunita T. (2004). Karya tulis ilmiah sosial menyiapkan, menulis, dan       mencermatinya. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia
Zhang, Yuehong. (2016). Against plagiarism. Basel: Springer International Publishing       AG





Review Jurnal Softskill : Psikologi dan Internet 2

Review Jurnal
Mata Kuliah : Softskill Psikologi dan Internet
Fakultas Psikologi




Depok 2016
Disusun Oleh :
Suparlinah (16515715)
2PA10





I. PENDAHULUAN
·         Latar Belakang Masalah
Bukti yang menunjukkan bahwa menggunakan intermet dapat berpotensi adiktif, seperti keterlibatanya dalam aktivitas online yang spesifik ,bermain game dan jejaring sosial seperti facebook. Dengan lebih dari 800 juta setiap hari pengguna aktif, Facebook adalah salah satu yang paling umum, dan pemahaman budaya anak muda. Sekarang di mana-mana penggunaan Facebook menimbulkan banyak masalah baru dan kompleks. bukti awal menunjukkan bahwa pola penggunaan Facebook dan situs serupa bisa berlebihan atau maladaptif.
·         Tujuan penelitian
Tujuan untuk menilai penggunaan jaringan sosial online teratur melalui modifikasi kriteria diagnostik untuk ketergantungan zat, dan untuk memeriksa hubungannya dengan kesulitan dengan regulasi emosi.
  
II. METODE
·         Metode
Metode yang digunakan adalah kuantitatif dengan menggunakan eksperimen pada mahasiswa di Universitas Northeastern.
·         Sampel/ Subjek penelitian
Peserta adalah mahasiswa sarjana di Universitas Northeastern yang menerima kredit saja di pertukaran untuk penyelesaian mereka dari studi kuesioner 1 jam. kriteria inklusi termasuk usia 18 tahun atau tua dan kefasihan dalam bahasa Inggris. Mengingat jumlah prediktor dalam analisis direncanakan dan dengan asumsi α = 0,05 dan ukuran efek sedang, ukuran sampel n = 128 diproyeksikan untuk menghasilkan daya lebih dari 80%; sampel yang ditargetkan ukuran 250 dipilih dalam upaya untuk merekrut cukup jumlah responden dengan menggunakan OSN teratur.

§  Alat ukur yang digunakan
Sebanyak 269 peserta menyelesaikan survei, dengan tingkat respon dari 100%. Mereka tanpa arus profil facebook (5,9%, n = 16) dikeluarkan dari analisis, menghasilkan sampel akhir dari 253 responden. Peserta penelitian sebagian besar wakil dari gender dan ras / etnis make-up dari populasi target dari mahasiswa sarjana di Amerika Serikat. Mereka tidak berbeda dari responden dikeluarkan dari analisis dalam hal demografi dasar, dengan pengecualian proporsi signifikan lebih tinggi dari responden tanpa profil Facebook saat ini mengidentifikasi sebagai Hispanik atau Latino
Penelitian ini dirancang untuk menguji secara sistematik gejala kecanduan seperti yang berkaitan dengan OSN dengan berfokus padamekanisme penilaian dan potensi yang mendasari pola maladaptif dari penggunaan Facebook OSNwebsite. alat penilaian yang ada dirancang untuk menangkap elemen kecanduan yang berkaitan dengan OSN telah dikritik karena tidak menangkap aspek-aspek tertentu dari penggunaan yang mungkin adiktif (Mis game yang dimainkan menggunakan platform Facebook), menyoroti kebutuhan untuk alat yang lebih fleksibel beradaptasi untuk mengukur kecanduan perilaku untuk berbagai aspek OSN.
CAGE adalah alat skrining singkat digunakan untuk mengidentifikasi Potensi peminum masalah, menilai keinginan untuk mengurangi penggunaan alkohol (C), yang terganggu oleh orang-orang mengkritik konsumsi alkohol (A), merasa bersalah penggunaan alkohol (G) dan membutuhkan hal pertama minum di pagi ( 'pembuka mata', E).

III. PEMBAHASAN
Penelitian ini menguji utilitas kriteria untuk ketergantungan zat dalam diagnosis perilaku kecanduan penggunaan jejaring sosial online (OSN). kriteria diagnostik yang diusulkan termasuk bukti toleransi (yaitu peningkatan waktu menghabiskan browsing situs), penarikan (yaitu irritabilitywhen tidak dapat mengakses situs) dan keinginan (dorongan yang kuat yaitu untuk mengakses situs). Tingkat prevalensi di masa sekarang sampel sebanding dengan kejadian kedua substansi menggunakan dan gangguan makan pada populasi umum. Namun, penelitian ini difokuskan pada sangat spesifik kelompok demografis (misalnya mahasiswa dengan teratur akses ke internet, menyelesaikan survei online), yang secara signifikan membatasi generalisasi ini Perkiraan prevalensi pada populasi umum.
Masa depan penelitian harus fokus pada penerapan yang diusulkan diagnostik Kriteria untuk populasi yang lebih beragam untuk menurunkan akurat perkiraan prevalensi penggunaan OSN teratur. Hal ini sesuai dengan asumsi bahwa individu mengembangkan kecanduan untuk aplikasi online tertentu, seperti Facebook, daripada ke internet pada umumnya. kecanduan perilaku ke Responden yang menggambarkan pola maladaptif dari Penggunaan situs OSN disahkan secara signifikan lebih banyak masalah terkait dengan regulasi emosi, termasuk lebih pengalaman penghindaran, kurangnya penerimaan emosional tanggapan, akses terbatas ke strategi regulasi emosi, kontrol impuls miskin dan kesulitan terlibat dalam perilaku yang diarahkan pada tujuan, menunjukkan bahwa penggunaan Facebook dapat dipertahankan melalui penguatan negatif. Efek ukuran berada di kecil untuk jarak menengah. Penemuan masa depan harus meneliti hubungan antara OSN teratur penggunaan dan masalah emosional lainnya, termasuk kecemasan dan depresi, serta mengeksplorasi lebih langsung emosional Fungsi regulasi penggunaan jejaring sosial, misalnya dengan menggunakan penilaian sesaat ekologi.
Temuan kami hubungan positif yang signifikan antara gejala penggunaan OSN teratur dan masalah minum konsisten dengan penelitian sebelumnya ,dan menunjukkan bahwa kehadiran penggunaan OSN teratur dapat mempersulit pengobatan kecanduan zat dan sebaliknya. Misalnya, penggunaan Facebook mungkin meningkat ketika individu mabuk Ada sejumlah keterbatasan untuk penelitian disajikan di sini. Langkah-langkah yang diberikan melalui survei online, meningkatkan kemungkinan diri pilihan-dari kelompok risiko tinggi pengguna internet sering. The cross sectional Sifat dari penelitian ini tidak memungkinkan untuk penilaian dari arah asosiasi antara variabel yang diukur, misalnya dalam hubungan antara penggunaan OSN teratur dan substansi lainnya menggunakan atau defisit dalam keterampilan regulasi emosi.
Itu kemungkinan bahwa defisit regulasi emosi yang tidak hanya faktor risiko untuk digunakan OSN teratur, tapi mungkin akibat dari kelebihan penggunaan situs jejaring sosial di mengorbankan pemodelan tatap muka regulasi yang tepat dari mempengaruhi, harus dieksplorasi dalam penelitian masa depan. Banyak pekerjaan yang juga dibutuhkan untuk hati-hati mengevaluasi sejauh yang kriteria diagnostik untuk ketergantungan zat menerjemahkan ke dalam domain dari OSN. Sebagai contoh, dapat berpendapat bahwa perlu seorang pecandu alkohol minum hal pertama di pagi berpotensi jauh lebih merugikan daripada perlu memeriksa Facebook hal pertama di pagi hari di hal kemampuan seseorang untuk berfungsi dalam kehidupan sehari-hari. Sebaliknya, hal ini juga mungkin bahwa individu kecanduan OSN terganggu pada cara-cara yang sebelumnya tidak pernah dinilai, misalnya dengan terlibat dalam perilaku berisiko seperti memeriksa Facebook pada perangkat mobile sementara penggerak.
Terlepas dari keterbatasan ini, penelitian ini memiliki sejumlah implikasi penting. Temuan kami menyoroti pentingnya penelitian lanjutan di bidang Penggunaan OSN teratur, yang juga dapat memberikan menyambut kesempatan untuk memeriksa berkorelasi dan mekanisme perilaku adiktif yang mendasari tanpa mengacaukan dari zat tertelan. Dalam berpikir tentang intervensi, meningkatkan ketergantungan kita pada komputer dan smartphone untuk bekerja dan kehidupan sosial membuat lengkap pantang dari internet mungkin. Dengan demikian mungkin berguna untuk meminjam teknik dari pengobatan makan Gangguan yang fokus pada cara-cara untuk menormalkan, bukan menghilangkan, perilaku bermasalah. Temuan menunjukkan bahwa intervensi yang menargetkan keterampilan regulasi emosi mungkin Pendekatan lain yang berguna dalam membantu mereka yang menderita Penggunaan OSN teratur. Secara bersama-sama, temuan kami mendukung dorongan baru-baru ini terhadap masuknya teratur Penggunaan OSN sebagai jenis kecanduan perilaku atau lebih subkategori kecanduan internet di masa depan diagnostik sistem klasifikasi. Selanjutnya, kriteria diagnostik disajikan di sini dapat berfungsi sebagai kerangka kerja untuk fleksibel penilaian kecanduan perilaku serupa yang melibatkan internet dan kegiatan lainnya.
Sebanyak 269 peserta menyelesaikan survei, dengan tingkat respon dari 100%. Mereka tanpa arus profil facebook (5,9%, n = 16) dikeluarkan dari analisis, menghasilkan sampel akhir dari 253 responden. Peserta penelitian sebagian besar wakil dari gender dan ras / etnis dari populasi target dari mahasiswa sarjana di Amerika Serikat. Hampir semua responden memiliki akses rutin ke internet di rumah (99,2%, n = 251) dan / atau melalui 'pintar' mobile telepon (93,3%, n = 236). Sebagian besar responden telah mempertahankan akun facebook selama minimal 2 tahun (88,9%, n = 225). Banyak diindikasikan menerima pemberitahuan Facebook pada mereka ponsel (66,9%, n = 168). peserta dilaporkan menghabiskan sekitar sepertiga dari waktu browsing online mereka Facebook pada hari sebelumnya.

IV. KESIMPULAN
Penggunaan jejaring sosial seperti facebook dapat menyebabkan kecanduan seperti penggunaan zat adiktif dan berkaitan dalam regulasi emosi, seperti kurangnya kesadaran respon emosional, kurangnya kejelasan respon emosional, kesulitan mengendalikan impuls ketika mengalami emosi negatif, kesulitan terlibat dalam perilaku yang diarahkan pada tujuan saat mengalami emosi negatif termasuk kecemasan dan depresi.

  
DAFTAR PUSTAKA
Hormes , Julia M. Brianna Kearns & C. Alix Timko. 2014. Craving Facebook? Behavioral addiction to online social networking and its association with emotion regulation deficits. Addiction, 109: 2079-2088.

Review Jurnal Softskill : Psikologi dan Internet

Review Jurnal
Mata Kuliah : Softskill Psikologi dan Internet
Fakultas Psikologi




Depok 2016
Disusun Oleh :
Suparlinah (16515715)

2PA10


I. PENDAHULUAN
·         Latar belakang Masalah
Di era perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan informasi yang saat ini semakin pesat masyarakat tidak dapat dipisahkan dari penggunaan internet. Seiring sejalan dengan perkembangan internet, perkembangan media sosial pun merambat luas di masyarakat. Perkembangan internet dan media sosial yang begitu pesat ini, membawa dampak yang cukup signifikan bagi seluruh masyarakat diseluruh belahan dunia, tidak terkecuali para remaja. Beberapa hasil studi banyak yang menjadi alasan untuk seorang siswa telat datang ke sekolah karena bergadang saat malam hari yang seharusnya digunakan untuk beristirahat tetapi digunakan menjelajahi internet diberbagai media sosial.
·         Tujuan penelitian
Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui hubungan durasi penggunaan media sosial dengan kejadian insomnia pada remaja di SMA Negeri 9 Manado.


II. METODE
a.       Metode yang digunakan
Metode penelitian ini menggunakan metode penelitian Kuantitatif dengan pendekatan  Cross Sectional Study yang penelitiannya dilakukan dalam satu waktu dengan mengamati gejala pada suatu individu atau komunitas.

b.      Sampel/ Subjek penelitian
§  Siapa, Dimana, Berapa.
Sampel untuk penelitian ini adalah siswad di SMA Negeri 9 manado, pada 62 siswa yang menjadi responden yang memiliki akun baik pribadi atau kelompok di berbagai media sosial dan responsen yang memberikan persetujuan dan bersedia mengikuti proses penelitian. Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 28-29 November 2014 yang bertujuan untuk mengetahui hubungan durasi penggunaan media sosial dengan kejadian insomnia pada remaja di SMA Negeri 9 Manado
§  Alat ukur yang digunakan
Penelitian ini menggunakan alat ukur berupa lembar wawancara durasi penggunaan sosial media yang dirancang untuk mengukur lamanya responden menggunakan media sosial yaitu : ≥ 7 Jam: Sangat lama, 5-6 Jam : Lama, 3-4 Jam : Sedang, 1-2 Jam : Singkat, dan < 1 jam : Sangat Singkat. Kemudian, untuk mengukur kejadian insomnia digunakan kuesioner Kelompok Studi Psikiatri Biologi Jakarta-Insomnia Rating Scale, Suparyanto tahun 2009, yang telah di modifikasi. Kuesioner ini terdiri dari 11 pertantanyaan setiap pertanyaan memiliki bobot jawaban yang menggunakan skala Likert. Bobot jawaban tersebut adalah sebagai berikut : Bobot Jawaban : 1 = tidak pernah , 2 = kadang-kadang , 3 = sering, 4 = selalu. Dari bobot jawaban ini akan didapatkan interpretasi hasil dari 11 pertanyaan tersebut. Interpretasi hasil yang akan diperoleh adalah sebagai berikut : Skor 1: 11-19 = tidak ada keluhan insomnia, Skor 2: 20-27 = insomnia ringan, Skor 3: 28-36 = insomnia berat, Skor 4: 37-44 = insomnia sangat berat. Cara pengisian kuesioner dilakukan dengan cara memberi tanda centang (√) pada kolom yang telah disediakan. Selain kuesioner digunakan pula lembar obeservasi untuk mengobservasi tanda dan gejala insomnia yang terjadi pada responden.
Prosedur pengumpulan data dalam penelitian ini yaitu, setelah mendapatkan surat rekomendasi pengambilan data awal ke tempat penelitian, selanjutnya peneliti mengidentifikasi fakta yang ada di SMA Negeri 9 Manado melalui studi kasus di lapangan untuk mendapatkan data tentang masalah yang terjadi di tempat penelitian. Setelah mendapatkan fenomena awal yang menjadi masalah di tempat penelitian kemudian peneliti mengidentifikasi masalah sebagai dasar penelitian, kemudian setelah didapatkan masalah sebagai dasar penelitian, peneliti menetukan judul penelitian dan lingkup penelitian berdasarkan data-data yang di peroleh dari studi kasus di lapangan.
Selanjutnya peneliti menyusun proposal penelitian, menentukan populasi penelitian, dan subjek penelitian (sampel) memenuhi kriteria inklusi dan kriteria eksklusi. penelitian mendapat persetujuan untuk dilanjutkan menjadi sebuah penelitian, maka peneliti berhak untuk melanjutkan penelitian. Setelah surat izin untuk melakukan penelitian di tetapkan, selanjutnya peneliti dapat melakukan pengambilan data-data yang diperlukan untuk proses penelitian di tempat penelitian. Setelah data-data diperoleh, selanjutnya peneliti harus melakukan analisa data. Setelah proses analisa data selesai akan diperoleh hasil penelitian dari penelitian yang dilakukan. Setelah diperoleh hasil penelitian maka peneliti harus menyusun kesimpulan dan saran dari penelitian yang dilakukan. Setelah melewati tahap akhir ini, maka penelitian dapat dinyatakan selesai
Pengolahan data yang diperoleh dari hasil penelitian ini diolah secara manual dengan mengelompokkan hasil dari lembar wawancara dan lembar kuesioner yang dibagikan dan selanjutnya dilakukan analisis menggunakan program pengolah statistik. Setelah itu diolah menggunakan sistem komputerisasi, tahapan-tahapan tersebut yaitu editing, coding dan entering.
                                                                                     
III. PEMBAHASAN/ DISKUSI
    Penelitian ini dilakukan di SMA Negeri 9 Manado pada 62 siswa yang menjadi responden. Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 28-29 November 2014 yang bertujuan untuk mengetahui hubungan durasi penggunaan media sosial dan mengalami insomnia pada remaja di SMA Negeri 9 manado. Dari 62 sampel yang diteliti diperoleh data jumlah terbanyak responden yang menggunakan media sosial dan mengalami insomnia adalah siswa yang berumur 16 tahun. Remaja pada umur 16 tahun dikategorikan pada tahap remaja akhir (Late Adolescene).
Menurut penelitian, karakteristik remaja pada umur tersebut mendorong mereka untuk saling bersosialisasi dan menjalin hubungan pertemanan dengan orang lain, untuk memenuhi kebutuhan bersosialisasi pada masa kini remaja dimudahkan dengan adanya perkembangan teknologi di bidang telekomukasi yang dapat dimanfaatkan oleh remaja yaitu media sosial. Dengan memanfaatkan media sosial remaja dapat menemukan teman baru, saling berbagi pengalaman, bahkan mengeksplorasi hal-hal baru dengan cara chatting, browsing, downloading dan sharring di media sosial melalui akun-akun yang mereka miliki. Selain itu juga sering di hadapkan dengan tugas-tugas sekolah, dan remaja yang memanfaatkan media sosial sebagai sarana penunjang intelektual.
Dari keseluruhan responden yaitu 62 responden yang diteliti, jumlah terbanyak pengguna media sosial adalah remaja perempuan dengan total 34 siswa (54,8%). Hasil penelitian Finances Online menemukan bahwa perempuan lebih tertarik untuk berinteraksi melalui media sosial dibanding pria (Telekomunitas, 2013). Menurut peneliti, remaja perempuan lebih cenderung menggemari interaksi melalui media sosial dikarenakan remaja perempuan lebih memiliki keinginan untuk berbagi/bercerita dengan orang lain, hal ini yang menyebabkan remaja perempuan lebih dominan menggunakan media sosial di bandingkan dengan remaja laki-laki. Remaja perempuan cenderung memiliki tingkat keakraban yang dalam dengan orang-orang sekitarnya.
Hasil penelitian pada 62 responden menunjukkan durasi penggunaan media sosial tertinggi yaitu pada jangka waktu sedang (3-4 jam) yang berjumlah 31 siswa (50,0%). Namun, dalam observasi untuk menentukan durasi penggunaan media sosial, penulis mengalami kesulitan untuk mengawasi secara lansung penggunaan media sosial pada responden sehingga mengakibatkan penulis harus berkomunikasi secara langsung untuk memperoleh keterangan dari responden menganai gangguan waktu tidur yang disebabkan oleh penggunaan media sosial. Dari hasil penelitian Sari Febrina (2009) didapatkan bahwa rata-rata remaja mengakses media sosial selama 3 sampai 4 jam sehari. Fasilitas yang sering digunakan adalah chatting, browsing dan downloading. Menurut peneliti penyebab lebih dominannya durasi penggunaan media sosial dalam jangka waktu sedang pada remaja dikarenakan remaja harus menyesuaikan waktu mereka antara durasi penggunaan media sosial dengan aktivitas belajar di sekolah, keinginan untuk bersosialisasi dan mengenal sesama, maupun mengerjakan tugas-tugas sekolah.

IV. KESIMPULAN
Dari hasil penelitian yang akan dilaksanakan di SMA Negeri 9 Manado pada bulan 28-29 November 2014 maka dapat disimpulkan bahwa : Durasi penggunaan media sosial tertinggi pada responden adalah pada durasi sedang (3-4 jam), kejadian insomnia pada responden terbanyak adalah insomnia ringan, dan terdapat hubungan antara durasi penggunaan media sosial dengan kejadian insomnia, bahwa semakin lama waktu penggunaan media sosial semakin tinggi tingkat kejadian insomnia.
a.       Kelebihan
Penelitian yang dilakukan mengikuti isu permasalahan yang sedang sering terjadi saat ini, yaitu penggunaan media sosial yang membuat remaja menjadi aktif di berbagai media sosial, dan sampel yang diambil sangat sesuai dengan permasalahan yang terjadi yaitu usia remaja. Dan mengelompokkan kriteria penggunaan media sosial seperti dari durasi sangat lama yaitu > 7 jam sampai yang sangat singkat yaitu <1 jam sehingga mudah dalam mengolah data dari hasil penelitian.
b.      Kekurangan
Lembar wawancara yang digunakan sepertinya kurang sesuai karena untuk permasalahan seperti ini sebaiknya menggunakan metode observasi dengan mengobservasi langsung kepada para responden. 

DAFTAR PUSTAKA
Syamsoedin, Wydia Khristianty Putriny. Hendro Bidjuni, Ferdinand Wowling. 2015. Hubungan Durasi Penggunaan Media Sosial dengan Kejadian Insomnia pada Remaja di SMA Negeri 9 Manado. Ejournal keperawatan (e-Kp) Vol. 3. Nomor 1.


























Senin, 10 Oktober 2016

Tugas Softskill : Psikologi dan Internet (Junking)

Universitas Gunadarma
Fakultas Psikologi

Tugas Softskill  : Psikologi dan Internet
2PA10
o   Evi Lisa Oktaviani
o   Nur Shandi Setiani 
o   Shabrina
o   Suparlinah  

·         Definisi  :
            Spam mengacu pada setiap email komersial yang tidak diinginkan yang isinya bisa omong kosong, piramida, atau pesan agama atau politik pemasaran  ( Murphy 1997,p.4)

·         Contoh kasus :
            Pengacara laurence canter dan martha Siegle melakukan spam pertama yang berskala besar di tahun 1994, ketika mereka mengirim pesan yang menawarkan bantuan untuk imigrasi dan naturalisasi layanan "lotere -card hijau" kepada ribuan penggunaan grup berita internet.  Ribuan penerima marah dan mengirim pesan berisi kecaman ke NETCOM, internet service provider (ISP) Carter dan Siegle , menyebabkan mesin penyedia jadi kelebihan kapasitas dan rusak. ISP menutup akun Canter dan Siegel dari pada merusak dan merugikan  pelanggan lain. Canter dan Siegel melakukan spam beberapa kali melalui  ISP lain , kemudian menulis "bagaimana" buku spamming (Canter, 1994).

·         Analisis Kasus:
            Canter dan Siegel mengirim email kepada ribuan pengguna grup berita di internet yang membuat NETCOM internet service provider harus menutup akun mereka karena banyaknya email balasan yang berisi kecaman yang dikirimkan kepada mereka yang membuat kelebihan kapasitas dan di khawatirkan merusak dan merugikan pelanggan lain karena ulah mereka.

Daftar Pustaka :

Mehdi Khosrowpour,2000 , Challengs of Information Technology Management in the 21 century. Anchurage . Alaska, USA, hal, 551. Penerbit : Idea Grup Publishing

Minggu, 02 Oktober 2016

Peranan Psikologi dalam Bidang Industri dan Organisasi

Mata Kuliah : Psikologi Industri dan Organisasi
Nama           : Suparlinah (15615715)

Peranan Psikologi dalam Bidang Industri dan Organisasi


Ilmu psikologi memiliki banyak peran dalam kehidupan manusia, salah satu perannya di dalam bidang Industri dan Organisasi. Di bidang Industri, Psikologi memiliki peranan penting seperti  adanya bagian HRD (Human Resource Development) yang ada di sebuah perusahaan yang mengurusi mengenai penyeleksian pada saat penerimaan karyawan dan penempatan posisi dalam bidang pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan yang dimiliki oleh seorang karyawan, karena setiap pelamar mengikuti serangkaian tes seperti tes kepribadian, tes intelegensi, dan wawancara yang nantinya akan menunjukkan laporan dari seorang pelamar tersebut dan akan memudahkan pihak HRD untuk penempatan posisi seorang karyawan di sebuah bidang Industri yang dapat membuat sebuah Industri berkembang. Dan juga dapat mempermudah pada saat mengevalusi kinerja karyawan dan meningkatkan kinerjanya dengan menambah mitivasi dan semangat karyawan.

Peranan Psikologi di dalam organisasi membantu agar suatu organisasi dapat lebih efektif jika anggotanya dapat bekerja sama dengan baik sehingga tujuan dari suatu organisasi dapat tercapai.   Semua tindakan penerimaan, penempatan, pelatihan karyawan tidak lepas dari peran psikologi agar seorang karyawan dapat memberikan potensi yang dimiliki semaksimal mungkin yang dapat membawa keuntungan bagi sebuah perusahaan atau organisasi.


Penempatan yang sesuai dengan potensi yang dimiliki seseorang akan membuat sebuah Organisasi dan Industri dapat berkembang dan juga dapat sukses secara finansial dan mampu bersaing dengan banyak Industri dan Organisasi di bidang yang sama.